Wednesday, October 06, 2004

MY ANGEL

Cerita ini udah lama banget aku tulis.... 16 Juni 2003... tapi macet bo'
really, suka stuck di mana gitu... tulisan yg selalu tanpa eksekusi... but pengen dilanjutin makanya aku muat aja di blog he he he... pamer dikit ^__*

Hepi reading yah :) semoga ada gunanya buat yg baca... benernya agak dibelokkan dikit dr cerita aslinya... soale suka terjebak dalam romantisme, klo udah mulai terperangkap gitu, weeekkksss suka males melanjutkan nulis....


--------------------------
My Angel
I just wanted someone to love and love me,
I never knew how much more you could be,
I fell harder than I ever thought I could fall,
so when I did, I gave you my all.
It was just like you to take my breath away,
but with it you gave me life.
I thought you were a dream
just taking my heart along for a ride,
but when I woke up you were still here
holding me by your side.
You stole my heart, an obvious fact,
Now for all the stars in the sky, I do not want it back.
You promised not to break it, lose it or forsake it.
Just keep it close to yours and treasured,
And I will give you a love that can never be measured.
I am always gonna love you tender,
because when you said I love you, you said it forever.
I would be lost without your love, so God gave me you ,
The Angel of my life.

(from : Pravsworld.com)


Email dari Fiona setelah obrolan semalam yang masih melekat dalam benakku, tentang curahan hati pada sahabat terbaikku itu...

Apalagi yang kuceritakan padanya kalau bukan curahan hati tentang perasaan kepada someone special yang beberapa hari ini serasa nyangkut di hatiku, bukan sosok pribadi yang kukenal dengan baik melainkan sebuah ide tentang sesosok pribadi yang menjadi idaman hati. Itulah sebabnya sehingga sahabatku menyarankan agar jangan sampai terjebak dengan ide sendiri sehingga apabila takdir hidup ini mengijinkan aku bersamanya tidak akan membuatku memaksakan sosok imaji-ku ke dalam dirinya yang tentunya akan menimbulkan kekecewaan padaku. Aha.... memang itulah sahabatku yang selalu memunculkan pikiran dari sisi lain yang sebelumnya tidak pernah ada dalam benak teman-teman yang lain yang hanya tertawa hahahihi tanpa saran berarti untuk diriku yang lagi dimabuk imaji tentang diri seseorang yang sedang terasa spesial.

Satu lagi sarannya yang sangat berat karena menguji keberanianku untuk mengungkapkannya adalah beri sinyal bahwa aku mengharapkan dirinya. Oh, my God, aku rasa it is okey dengan kenyataan bahwa style gaul Fiona dan teman-teman bule-nya begitu open minded. Nah sekarang yang mengalami adalah aku yang memang merasa tidak mungkin mengungkapkan perasaan suka lebih dulu dan dia cuma tertawa menanggapi kepolosanku yang seperti ABG berumur sevententh. Tentu saja tidak perlu bilang suka sama dia, kata Fiona, bisa saja kamu bilang bahwa kamu merasa enak dan nyaman ngobrol bersamanya. Okey, pasti aku coba dan memang benar-benar aku menuliskannya di sms-ku pada orang itu bahwa aku merasa enak dan comfort setelah tiga puluh menit ngobrol dengannya. A good idea, yang sudah terlaksana....hasilnya, lihat saja nanti.

Entah mengapa hanya bayang-bayang wajahnya yang selalu muncul dalam benakku, selalu hadir dalam kesepian atau momen-momen lain di setiap detak kehidupanku. Bahkan di dalam doaku tak pernah lupa kusebut namanya, memohon Tuhan memberi perlindungan dan melimpahkan berkat dalam hidupnya. Di setiap kisi hatiku selalu berhembus kebaikan hatinya, namun seperti apa sebenarnya sosok pribadi dan wataknya yang utuh tak pernah aku ketahui secara lengkap karena hanya sepenggal cerita tentang kehidupannya yang diceritakan by email, sementara untuk berbicara secara langsung dia lebih banyak diam mendengarkan celotehku pada waktu kami bertemu.

Benar kata Fiona, jangan sampai aku terjebak dalam idea tentang sosok yang aku imajikan dalam benakku, perfect profile yang tercipta dalam kesunyian hati ketika seorang diri menjalani kehidupan ini. Tapi kata-katanya membuat aku tersadar bahwa masalah cinta yang ada sekarang ini bukan seperti pada masa remaja dulu, ini adalah cinta yang tumbuh di awal tiga puluh. Butuh kedewasaan dan butuh kesabaran ekstra jika mengingat bahwa kami berdua tidak akan bisa sering bertemu karena kesibukan dan jarak yang memisahkan.

Selintas kenangan akan first love membayang di benakku, kenangan masa kecil waktu puber pertama. Ada senyum kecil kulihat dalam bayanganku di cermin, lucu sekali bila mengingat pertanyaan tante Rose kepadaku tentang first love. Pernah kualami, jawabku yakin, namanya Budi dan aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama ketika pertama kali bertemu dengannya kelas enam SD. Pertanyaan kedua tante Rose membuatku tercenung, apakah kalian pacaran ? Kujawab tidak, lalu tante Rose tertawa dan berkata bahwa apa yang aku bilang bukan merupakan first love, melainkan cinta bertepuk sebelah tangan yang pertama. Kalau sekarang aku mengingat kenangan itu, aku sangat setuju sekali dengan pendapat tante Rose tapi tetap saja menganggap bahwa Budi is my first love.

Kemarin adalah hari di mana aku kembali menginjakkan kaki di Jakarta setelah aku mendapatkan cuti sepuluh hari dari NUS (National University of Singapore), tempat aku bekerja sebagai dosen di Art Faculty, sengaja aku memilih bekerja di sana setelah selesai kuliah master-ku di Seattle karena aku tidak mau hidup terlalu jauh dari keluarga yaitu orang tua dan adik-adikku. Selain dekat, Singapura adalah kota yang rapi dan bersih udaranya, bandingkan dengan Jakarta yang selalu macet dan berpolusi, maka aku memilih kehidupan yang tenang di sana di sebuah apartemen mungil di daerah Commonwealth. Kebetulan ada tante Fai yang menikah dengan orang Singapura dan sudah dua puluh tahun tinggal di sana, paling tidak ada seorang famili yang dekat tinggal dengan aku sehingga cukup menghapus kekuatiran mama tentang aku yang hidup seorang diri di negeri orang.

Seperti biasa setiap kali menginjakkan kaki di bandara selalu ada antrian panjang untuk check out, lumayan juga untuk cukup bersabar menunggu giliran karena hal ini merupakan budaya yang baik sehingga segalanya bisa berjalan dengan tertib. Setelah lepas dari antrian itu, kulihat di kejauhan Harry sudah menunggu, tentu saja pasti adikku lelaki satu itu yang selalu menjemputku.

Kunikmati sepanjang jalan dalam mobil yang membawa aku pulang ke rumah, sesekali canda Harry membuat aku tertawa kecil. Dia mengungkapkan keheranannya melihat sikap diamku, kenapa tidak suka kembali ke rumah sekali ini ? Aku cuma tersenyum dan menjawab bahwa aku sedang memikirkan sesuatu.

Sudah dua tahun terakhir ini, setiap kali pulang ke tanah air aku selalu merasa kesepian di rumah karena hanya tinggal berdua bersama Harry. Siang hari adikku itu bekerja dan sering pulang sampai larut, mungkin memang dengan cara bekerja keras itu dia dapat melupakan kesedihan. Seperti halnya aku pun tidak dapat melupakan kesedihan yang membuat aku begitu terpuruk dua tahun lalu, kepergian mama dan papa serta Regina dalam kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta. Aku dan Harry begitu terpukul, benar-benar tidak sanggup menghadapi kenyataan yang membawa kepedihan begitu dalam di hati kami berdua. Sungguh Tuhan masih adil karena kami masih boleh tinggal berdua sehingga masih bisa saling menguatkan dan masih pula ditambah kehadiran Michael yang begitu setia mendampingi dan menghiburku.

Beberapa bulan sesudahnya, aku dan Michael memutuskan hubungan secara baik-baik, aku tetap tinggal di Singapura sedangkan dia kembali ke San Francisco, tempat asalnya dan tempat di mana pertama kali aku bertemu dengannya. Kenangan indah bersamanya tetap menjaga hubungan persahabatan kami, mungkin sudah takdir bahwa aku dan Michael tidak dapat saling memiliki untuk selamanya namun rasa kasih sayang itu telah berubah jadi hubungan yang abadi sebagai sahabat.

Pulangnya aku ke Jakarta kali ini adalah demi seseorang yang sudah lama sekali aku kenal, tetapi hanya dua kali bertemu. Persahabatan dan rasa yang dijalin selama ini hanya berjalan di dunia virtual, namun aku selalu merasakan ikatan batin yang kuat dengannya. Dia sungguh tak pernah bisa dilupakan dan terpatri indah di dalam benakku, entah mengapa sungguh tak bisa kujawab perasaan yang selalu ada di dua pertemuan kami beberapa bulan lalu. Seperti ada arus dalam dirinya yang selalu menarik diriku, entah apa. Dan demi rasa itu, aku pulang untuk menemui dia, seseorang yang bernama David.
... to be continued...

No comments: